DYSPRAXIA

DYSPRAXIA

Dyspraxia yaitu keadaan medis yang merubah koordinasi serta gerakan anggota badan, hingga pasien tidak bisa melakukan aktivitas fisik dengan maksimum seperti orang normal yang lain. Pasien dyspraxia umumnya tampak lebih asal-asalan serta mempunyai masalah dalam keseimbangannya baca juga 

Dyspraxia semakin banyak terkena oleh anak lelaki dari pada wanita serta keadaan ini tidak memengaruhi intelegensia seorang. Walau sinyal tanda dyspraxia telah keluar mulai sejak umur awal, tetapi susah terdeteksi karna tingkat perubahan anak yang berlainan keduanya. Biasanya anak pasien dyspraxia baru terdiagnosis waktu memijak umur lima th. atau lebih.

Tanda Dyspraxia

Pasien dyspraxia umumnya alami sebagian kesusahan atau masalah pada banyak hal, seperti :

Koordinasi, keseimbangan, serta gerakan.

Pelajari tehnik baru, berfikir, serta mengingat info waktu bekerja ataupun waktu bersantai.

Kekuatan hidup basic keseharian, seperti kenakan pakaian atau mengikat tali sepatu.

Menulis, mengetik, menggambar, serta menggenggam benda kecil.

Kondisi sosial.

Mengelola emosi.

Manajemen saat, berencana, serta mengatur suatu hal.

Sedang beberapa gejala yang mungkin saja terlihat pada anak pasien dyspraxia yaitu :

Bayi memerlukan saat lebih lama untuk dapat duduk, merangkak atau jalan.

Tempat badan yg tidak umum.

Kesusahan bermain dengan mainan yang memerlukan koordinasi badan yang baik, seperti membuat balok.

Pada pasien dyspraxia anak-anak, tanda yang mungkin saja tampak yaitu :

Kesusahan untuk belajar makan sendiri dengan alat makan.

Anak terlihat canggung serta asal-asalan, seperti seringkali terbentur atau menjatuhkan barang.

Susah berkonsentrasi, ikuti instruksi, serta mengerti info.

Kesusahan dalam mengatur sendiri serta merampungkan pekerjaan.

Tidak dapat pelajari kekuatan baru dengan automatis.

Kesusahan dalam memperoleh rekan baru.

Mempunyai problem perilaku.

Keyakinan diri yang rendah.

Penyebabnya serta Aspek Resiko Dyspraxia

Koordinasi serta gerakan anggota badan adalah sistem kompleks yang melibatkan beragam saraf serta sisi otak. Bila ada masalah pada satu diantara saraf maupun sisi otak, jadi hal semacam ini bisa mengakibatkan dyspraxia.

Tetapi hingga sekarang ini masih tetap belum juga terang penyebabnya koordinasi anggota badan tidak berkembang dengan normal. Ada banyak hal yang bisa tingkatkan resiko seorang terserang dyspraxia, yakni :

Kelahiran prematur, sebelumnya menjangkau umur kehamilan 37 minggu.

Lahir dengan berat tubuh kurang dari normal.

Mempunyai anggota keluarga yang menanggung derita dyspraxia.

Ibu konsumsi minuman mengandung alkohol atau obat-obatan terlarang waktu memiliki kandungan.

Diagnosis Dyspraxia

Untuk mendiagnosis pasien yang dicurigai menanggung derita dyspraxia, memerlukan tim dari dokter spesialis anak, fisioterapis, psikiater, serta dokter spesialis saraf.

Pasien dyspraxia juga akan di check untuk menyatukan info dalam banyak hal seperti :

Apakah kekuatan motorik pasien tidak cocok dengan umur serta kecerdasannya. Pasien dapat juga disuruh untuk lakukan satu pergerakan seperti melompat atau menggambar untuk lihat keterampilan pasien dalam lakukan pergerakan motorik kasar serta halus.

Kendala dalam kesibukan keseharian pasien atau pasien tidak berprestasi di sekolah karenan minimnya keterampilan. Minimnya keterampilan ini tidak dikarenakan oleh penyakit yang lain.

Apakah pasien alami kesusahan belajar serta apakah kekuatan motoriknya lebih jelek dari pada yang diinginkan.

Apakah pasien mempunyai masalah mental yang dinilai oleh psikiater.

Masalah atau kelainan waktu kelahiran atau kisah keterlambatan dalam perubahan anak.

Ada tidaknya anggota keluarga yang menanggung derita dypraxia.

Semua info serta hasil kontrol juga akan dinilai oleh tim serta juga akan diambil kesimpulan apakah pasien menanggung derita dyspraxia atau tidak.

Penyembuhan Dyspraxia

Hingga sekarang ini belumlah ada obat untuk menangani dyspraxia, tetapi penderitanya bisa melakukan sebagian therapy untuk kurangi masalah dalam beraktivitas keseharian. Sebagian therapy yang bisa dikerjakan yaitu :

Therapy okupasi. Therapy okupasi juga akan menolong pasien temukan langkah praktis untuk tetaplah mandiri serta mengatur kebiasaan sehari-hari.

Therapy tingkah laku kognitif. Therapy ini juga akan menolong pasien untuk mengatur problem lewat cara merubah pojok pandang serta tingkah laku pasien.

Tehnik, langkah, serta pendekatan yang dikerjakan tidak sama tiap-tiap pasien. Tim juga akan membuat type therapy yang pas demikian dyspraxia terdiagnosis. Support dari beberapa orang paling dekat begitu perlu dalam menolong pasien mengatur keadaannya serta bisa melakukan kehidupan dengan baik. Hal itu adalah maksud paling utama dari penyembuhan dyspraxia.

Anak-anak pasien dyspraxia sering mempunyai kelainan beda seperti ADHD, disleksia, serta autisme. Kelainan yang mengikuti dyspraxia harus juga dikerjakan dengan terpisah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *